Tugas Etika Profesi “Review Jurnal”

ANALISA SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DI PT. JANATA MARINA INDAH SEMARANG BERDASARKAN ISO 14001

Darminto Pujotomo, ST.MT., Agus Yulianto Subekhi

Program Studi Teknik Industri, Universitas Diponegoro

Jl. Prof Sudarto, SH Tembalang-Semarang, Telp.0247460052

 

PT.Janata Marina Indah Semarang merupakan salah satu perusahaan swasta nasional Indonesia,  dalam  bidang  produk  dan  perbaikan  kapal,  dimana  dalam  proses  produksinya melalui beberapa tahap yang setiap tahapnya dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Masalah lingkungan itu sendiri mempunyai dampak penting yang terus meningkat bagi perusahaan,  tergantung pada bagaimana reaksi pada perusahaan  PT. Janata  Marina  Indah Semarang. Perkembangan  perusahaan  selalu seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan dan perbaikan sesuai standar-standar yang diberlakukan di pasar global yang menjadi kendala perusahaan dalam era globalisasi ini. Isu penurunan kualitas lingkungan mendorong PT. Janata Marina  Indah Semarang  untuk  memasukan  persoalan  tersebut kedalam agenda  perusahaan. Langkah untuk menyelesaikan  persoalan  tersebut PT. Janata  Marina  Indah Semarang  merencanakan untuk  menerapkan  standar-standar  international  dengan tujuan agar dapat mendukung  keberlangsungan perusahaan, salah satunya adalah dengan cara menerapkan sistem manajemen lingkungan yang dikenal dengan istilah ISO 14001.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan mulai dari studi lapangan pendahuluan, identifikasi masalah, perumusan masalah, penentuan tujuan penelitian, kemudian melakukan studi studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka merupakan tahapan penelitian dimana penulis melakukan observasi terhadap literature-literatur yang ada untuk mendapatkan teori-teori yang mendukung pemecahan masalah yang dilakukan. Model konseptual yaitu materi penelitian yang didasarkan pada model Sistem Manajemen Lingkungan yaitu P-D-C-A, yang kemudian menghubungkan dengan elemen-elemen yang terdapat dalam ISO 14001.Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Checklist. Terdapat 5 prinsip dan 17 elemen pada ISO 14001 dan menghasilkan 31 pertanyaan. Skor yang tinggi di elemen apapun tidak selalu merupakan tanda bahwa kebutuhan dasarnya terpenuhi, jika kriteria inti dalam elemen tidak terpenuhi. Selain itu, karena semua prinsip dan elemen saling terkait,  skor  rendah  dalam  setiap  elemen yang  diberikan  dapat  menempatkan keraguan pada skor yang lebih tinggi yang dicapai di elemen lain. Di sisi lain, menghasilkan setidaknya 1 atau 2 dalam setiap  ertanyaan  harus  memberikan keyakinan  pada  organisasi  bahwa pendekatan manajemen yang kompatibel dengan SML seperti yang dijelaskan dalam ISO 14001.

HASIL PEMBHASAN DAN ANALISA

Pada checklist, setiap kondisi  diberikan score pada masing-masing prinsip ISO 14001, untuk menilai penerapannya di perusahaan. Hasil scoring ini berguna untuk menilai kondisi perusahaan saat ini tentang Sistem Manajemen Lingkungannya. Definisi score dari masing-masing prinsip akan dijelaskan pada tahap analisa. Berikut ini merupakan prinsip tersebut:

  1. Analisa Hasil Checklist Prinsip Kebijakan dan Komitmen berdasarkan hasil observasi yang ada di PT. Janata Marina Indah Semarang, total skor yang  dihasilkan  untuk  prinsip Kebijakan dan Komitmen adalah sebesar 7. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini memiliki kebijakan lingkungan yang memenuhi standar.
  2. Analisa Hasil Checklist Prinsip Perencanaan berdasarkan hasil observasi yang ada di PT. Janata Marina Indah Semarang, total skor yang dihasilkan untuk prinsip Perencanaan adalah sebesar 5. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini telah membuat kemajuan dalam mengidentifikasi sebagian besar aspek lingkungan serta persyaratan hukum
  3. Analisa Hasil Checklist Prinsip Penerapan dan Operasi berdasarkan hasil observasi yang ada di PT. Janata Marina Indah Semarang total skor yang  dihasilkan  untuk  prinsip Penerapan  dan  Operasi  adalah  sebesar  12. Ini menjelaskan  bahwa organisasi  ini telah memiliki banyak  prosedur  untuk mencapai tujuan kebijakan dan targetnya sudah ada, tetapi   mereka   mungkin   tidak   mencakup situasi darurat.
  4. Analisa Hasil Checklist Prinsip Pemeriksaan dan Tindakan Koreksi berdasarkan hasil observasi yang ada di PT. Janata Marina Indah Semarang total skor yang dihasilkan untuk prinsip Pemerikasaan dan Tindakan Koreksi adalah sebesar 2. Ini menjelaskan bahwa organisasi Masih sedikit, (jika ada) prosedur telah dikembangkan atau diterapkan untuk memeriksa kinerja SML.
  5. Analisa Hasil Checklist Prinsip Tinjauan Manajemen Total skor  yang  dihasilkan untuk prinsip. Tinjauan Manajemen adalah sebesar ini menjelaskan bahwa organisasi pernah melakukan tinjauan manajemen mengenai Sistem Manajemen Lingkungannya, akan tetapi tidak ada jadwal berkala untuk mengkaji Sistem Manajemen Lingkungan yang ada.

PERBAIKAN DAN SOLUSI

Prinsip kebijakan dan komitmen

  1. Manajemen puncak sebaiknya dibentuk dan didokumentasikan kebijakan lingkungan yang memenuhi persyaratan standar.
  2. Mencegah pencemaran dan mencapai perbaikan yang berkelanjutan pengembangan prosedur evaluasi kinerja lingkungan sesuai dengan indikator yang terkait

Prinsip Perencanaan

  1. Perlunya proses identifikasi aspek lingkungan dan membutuhkan partisipasi dan peran serta untuk memeahami kegiatan tersebut.
  2. Identifikasi persyaratan  peraturan perundang-undangan   yang   berlaku dan persyaratan lainnya yang diikuti organisasi
  3. Penentuan tujuan dan sasaran dan penetapan program untuk mencapainya. Proses  penetapan tujuan lingkungan telah mengambil atau mempertimbangkan aspek pertimbangan yang berkaitan dengan dampak  lingkungan  yang signifikan terkait dengan kegiatan produksi

Prinsip Penerapan dan Operasi

  1. Mengadakan dan membuat program pelatihan.
  2. Mengidentifikasi,  menjelaskan     dan  mendokumentasikan elemen inti dari Sistem  Manajemen  Lingkungan. Interaksi antara unsur-unsur inti dari Sistem Manajemen Lingkungan telah dijelaskan
  3. Menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengendalikakn dokumen yang dipersyaratkan ISO 14001

Prinsip Pemeriksaan dan Tindakan koreksi

  1. Mendefinisikan tanggung jawab dan kewenangan untuk  menangani  dan menyelidiki insiden ketidaksesuaian
  2. Audit sebaiknya dilakukan pada jangka waktu yang ditentukan, audit bertujuan menentukan apakah sistem manajemen lingkung sesuai dengan pere

Prinsip Tinjauan Manajemen

Sebaiknya sebuah organisasi secara berkala untuk meninjau dan melakukan perbaikan sistem manajemen lingkungan secara berkelanjutan tujuan perbaikan kinerja lingkungan dilakukan secara menyeluruh

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil analissa mengenai sistem manajemen lingkungan perusahaan dapat disimpulkan bahwa penerapan  Sistem  Manajemen  Lingkungan di PT. Janata Marina Indah Semarang saat ini masih kurang memenuhi persyaratan ISO14001. Keadaan tersebut bukan merupakan persiapan yang baik dalam hal mendapatkan sertifikasi ISO 14001, oleh karena itu rancangan perbaikan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi untuk mendapatkan sertifikasi ISO 14001. Saran kunci sukses untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) dalam ISO 14001 ini adalah dengan diperlukannya komitmen dan keterlibatan manajemen. Kurangnya pemahaman tentang peran dan tanggungjawab dari manajemen akan menyebabkan sistem tidak efektif atau komitmen penyempurnaan keberlanjutan tidak terpenuhi dengan baik.

Sumber: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=173781&val=4694&title=ANALISA%20SISTEM%20MANAJEMEN%20LINGKUNGAN%20%20DI%20PT.%20JANATA%20MARINA%20INDAH%20SEMARANG%20%20BERDASARKAN%20ISO%2014001

 

Iklan

Perencanaan Organisasional

Definisi Perencanaan

Perencanaan adalah proses menentukan bagaimana organisasi bisa mencapai tujuannya. Dalam istilah yang lebih resmi, perencanaan di definisikan sebagai perkembangan sistematis dari program tindakan yang ditujukan pada pencapaian tujuan bisnis yang telah disepakati dengan proses analisa, evaluasi, seleksi di antara kesempatan-kesempatan yang diprediksi terlebih dahulu.

Tujuan Perencanaan

Perencanaan organisasional mempunyai dua maksud yaitu :

  1. Perlindungan (protective)

Meminimisasi resiko dengan mengurangi ketidakpastian disekitar kondisi bisnis dan menjelaskan konsekuensi tindakan menejerial yang berhubungan.

  1. Kesepakatan (Affirmative)

Tujuan dari kesepakatan (Affirmative) untuk Meningkatkan tingkat keberhasilan  organisasional.

Tujuan organisasional adalah titik awal perencanaan, wirausahawan secara konstan diingatkan dengan apa yang ingin di capai organisasi mereka. Jika fungsi perencanaan tidak dilaksanakan dengan baik dalam organisasi, perencanaan mungkin akan menimbulkan kerugian-kerugian. Penekanan pada program perencanaan akan memakan banyak waktu manajemen. Manajemen harus membagi antara waktu yang digunakan untuk perencanaan dengan waktu yang di gunakan untuk fungsi manajemen  lainnya seperti pengorganisasi, mempengaruhi dan pengawasan.

Henry Fayol telah mengembangkan 16 garis pedoman umum yang bisa digunakan ketika mengorganisasi sumber daya-sumber daya, yaitu :

  1. Menyiapkan dan melaksanakan rencana operasional secara bijaksana.
  2. Mengorganisasi faset kemanusiaan dan bahan sehingga konsisten dengan tujuan, sumber daya, dan kebutuhan dari per soalan tersebut.
  3. Menetapkan wewenang tunggal, kompeten, enerjik, dan menuntun.
  4. Mengkoordinasi semua aktivitas-aktivitas dan usaha-usaha.
  5. Merumuskan keputusan yang jelas, berbeda, dan tepat.
  6. Menyusun seleksi yang efisien sehingga tiap-tiap departemen dipimpin oleh seorang manajer yang kompeten, enerjik, dan tiap-tiap karyawan ditempatkan pada tempat dimana dia bisa menyumbangkan tenaganya secara maksimal.
  7. Mendefinisikan tugas-tugas.
  8. Mendorong inisiatif dan tanggung jawab.
  9. Menberikan balas jasa yang adil dan sesuai bagi jasa yang diberikan.
  10. Memfungsikan sanksi terhadap kesalahan dan kekeliruan.
  11. Mempertahankan disiplin.
  12. Menjamin bahwa kepentingan individu konsisiten dengan kepentingan umum dari organisasi.
  13. Mengakui adanya satu komando.
  14. Mempromosikan koordinasi dahan dan kemusiaan.
  15. Melembagakan dan memberlakukan pengawsan.
  16. Menghindari adanya pengaturan, birokrasi, dan kertas kerja.

Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dalam Pembagian Tenaga Kerja, berikut merupakan kelebihan dan kekurangan:

Keuntungan :

  1. Pekerja berspesialisasi dalam tugas tertentu sehingga keterampilan dalam tugas tertentu meningkat
  2. Tenaga kerja tidak kehilangan waktu dari satu tugas ke tugas yang lain
  3. Pekerja memusatkan diri pada satu pekerjaan dan membuat pekerjaan lebih mudah dan efisien
  4. Pekerja hanya perlu mengetahui bagaimana melaksanakan bagian tugas dan bukan proses keseluruhan produk

Kerugian :

  1. Pembagian kerja hanya dipusatkan pada efisiensi dan manfaat ekonomi yang mengabaikan variabel manusia
  2. Kerja yang terspesialisasi cenderung menjadi sangat membosankan yang akan berakibat tingkat produksi menurun

Menurut Chester Barnard akan makin banyak perintah manajer yang diterima dalam jangka panjang jika :

  1. Saluran formal dari komunikasi digunakan oleh manajer dan dikenal semua anggota organisasi
  2. Tiap anggota organisasi telah menerima saluran komunikasi formal melalui mana dia menerima perintah
  3. Lini komunikasi antara manajer bawahan bersifat langsung
  4. Rantai komando yang lengkap
  5. Manajer memiliki keterampilan komunikasi yang memadai
  6. Manajer menggunakan lini komunikasi formal hanya untuk urusan organisasional
  7. Suatu perintah secara otentik memang berasal dari manajer

Sumber:

https://diastrianida.wordpress.com/2014/05/21/perencanaan-organisasi-kewirausahaan/

http://muhamadf.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-perencanaan-organisasi.html

http://jaenudinp.blogspot.co.id/2014/01/perencanaan-organisasional.html

 

Mengenai Ibu Yuyun Yuniar

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan mengenai  seorang dosen yang mengajar dikampus saya tepatnya pada jurusan teknik industri Universitas Gunadarma yaitu ibu Yuyun Yuniar. Ibu Yuyun begitulah nama sehari-hari beliau dipanggil oleh mahasiswanya, beliau telah mengajar saya beserta dengan teman-teman di semester 5 dan semester 6. Pada semester 5 beliau mengajar mata kuliah analisis keputusan, sedangkan semester 6 beliau mengajar mata kuliah softskill yaitu  mengenai pengetahuan lingkungan. Beliau sangat baik kepada para mahasiswanya dalam membimbing materi perkuliahan dan sering memberikan tugas-tugas yang bermanfaat kepada kami agar kami dapat memahami materi lebih baik. Beliau juga terkenal rapih dalam berpakaian saat mengajar. Sekian yang dapat saya sampaikan mengenai dosen saya yaitu ibu Yuyun Yuniar. Terimakasih

Menceritakan Mengenai ISO 14001

 Pengertian ISO 14000

            ISO (Internasional Organization for Standarization) yang berkedudukan di Swiss adalah organisasi yang bertugas mengembangkan standar dibidang industry, bisnis dan teknologi.ISO juga merupakan sebuah organisasi dunia non pemerintah dan bukan bagian dari PBB atau WTO (World Trade Organization) walaupun standar-standar yang dihasilkan merupakan rujukan bagi kedua organisasi tersebut. Anggota ISO, terdiri dari 110 negara, tidak terdiri dari delegasi pemerintah tetapi tersusun dari institusi standarisasi nasional sebanyak satu wakil organisasi untuk setiap negara. ISO 14000 series merupakan seperangkat standar internasional bidang manajemen lingkungan yang dimaksudkan untuk membantu organisasi di seluruh dunia dalam meningkatkan efektivitas kegiatan pengelolaan lingkungannya.Meski ISO adalah organisasi non pemerintah, kemampuannya untuk menetapkan standar yang sering menjadi hukum melalui persetujuan atau standar nasional membuatnya lebih berpengaruh daripada kebanyakan organisasi non-pemerintah lainnya, dan dalam prakteknya ISO menjadi konsorsium dengan hubungan yang kuat dengan pihak-pihak pemerintah.

Peserta ISO termasuk satu badan standar nasional dari setiap negara dan perusahaan-perusahaan besar.Standar – standar yang diberikan ISO kepada para perusahaan bertujuan agar perusahaan-perusahaan di seluruh negara dapat memiliki gambaran mengenai aturan kerja pengelolaan lingkungan yang efektif dan dapat diterapkan pada sistem manajemen lainnya.Dengan diberikan gambaran–gambaran tersebut, perusahaan diharapkan memiliki suatu sistem peralatan yang dapat dipergunakan dalam menjaga kestabilan dan kelestarian lingkungannya sehingga hal ini memungkinkan kinerja perusahaan dengan basis lingkungan yang selalu terkendali dan terus mengalami perkembangan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) bekerjasama dengan Kelompok Kerja Nasional ISO 14000 dan berbagai stakeholders sejak tahun 1995 mengkaji, menyebarkan informasi, dan melakukan serangkaian kegiatan penelitian dan pengembangan penerapan Sistem Manajemen Lingkungan. Berdasarkan hasil pembahasan dengan “stakeholders” di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup menyadari potensi penerapan Sistem Manajemen Lingkungan bagi peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan, peningkatan peran aktif pihak swasta dan promosi penerapan perangkat pengelolaan lingkungan secara proaktif dan sukarela di Indonesia.

Sejarah ISO 14000  di Indonesia

            Bulan Juni 1991 ISO membentuk SAGE (Strategic Advisory Group on the Environment) yang merekomendasikan pembentukan standar manajemen lingkungan.Bulan Januari 1993 dibentuklah Technical Committee atau TC 207 yang bertugas menggembangkan ISO seri 14000.Seiring dengan perumusan Standar Internasional ISO seri 14000 untuk bidang manajemen lingkungan sejak 1993, maka Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif mengikuti perkembangan ISO seri 14000 telah melakukan antisipasi terhadap diberlakukannya standar tersebut. Dalam hal tersebut, dilakukan berbagai pembentukan Kelompok Kerja Nasional ISO 14000 oleh Bapedal pada tahun 1995 untuk membahas draf standar ISO tersebut sejak tahun 1995. Anggota Kelompok Kerja tersebut berasal dari berbagai kalangan, baik Pemerintah, Swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, maupun pakar pengelolaan lingkungan.

Perumusan standar ISO 14000 series diprakarsai dunia usaha sebagai kontribusi terhadap pencapaian Pembangunan Berkelanjutan yang disepakati dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992. Wakil pihak pemerintah, dunia usaha, pakar, praktisi dan pihak lain yang berkepentingan terlibat dalam perumusan standar tersebut. ISO 14000 series mencakup beberapa kelompok perangkat pengelolaan lingkungan atau seri standar ynsg terdiri dari.

  1. ISO seri 14001 tentang Sistem Manajemen Lingkungan (SML)
  2. ISO seri 19011 tentang Audit Sistem Mutu dan Lingkungan
  3. ISO seri 14020 tentang Label Lingkungan (Environment Labbeling)
  4. ISO seri 14030 tentang Evaluasi Unjuk Kerja Lingkungan
  5. ISO seri 14040 tentang Analisa Daur Hidup Produk
  6. ISO seri 14050 tentang Istilah dan Definisi

ISO seri 14060 tentang Standar Aspek Lingkungan dari Produk

Pada tahun 1996-1998, serangkaian seminar, lokakarya, penelitian dan proyek percontohan Sistem Manajemen Lingkungan telah diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, bekerjasama dengan BSN dan berbagai pihak. Rangkaian kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menjadi investasi awal bagi penerapan ISO 14000 di Indonesia dalam menumbuhkan sisi “demand” maupun “supply” menuju mekanisme pasar yang wajar. Setelah itu, muncullah beberapa penyelenggara pelatihan, jasa konsultasi, jasa sertifikasi dan perusahaan-perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan.Seiring dengan tumbuhnya populasi para pemain dalam pasar penerapan ISO 14000 di Indonesia, Kementerian lingkungan hidup selanjutnya lebih menfokuskan diri pada peran fasilitator dan pembina kepada semua pihak dalam penerapan ISO 14000 di Indonesia.

Peran motor penggerak diharapkan dapat dilanjutkan oleh dunia usaha itu sendiri, sesuai dengan jiwa penerapan Sistem Manajemen Lingkungan yang bersifat proaktif dan sukarela. Untuk menfasilitasi penerapan standar ISO 14000 di Indonesia dan mempermudah penerapan dilapangan serta untuk menyamakan persepsi mengenai pelaksanaannya, maka Kementerian lingkungan hidup  bekerja sama dengan BSN telah melakukan adopsi terhadap beberapa Standar Internasional ISO 14000 menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI). Standar yang telah diadopsi tersebut diantaranya:

1.Sistem Manajemen Lingkungan-Spesifikasi dengan Panduan Penggunaan (SNI  19-14001-1997)
2.Sistem Manajemen Lingkungan-Pedoman Umum Prinsip Sistem dan Teknik Pendukung (SNI 19-14004-1997)
3.Pedoman Audit Lingkungan-Prinsip Umum (SNI 19-1410-1997)
4.Pedoman Untuk Pengauditan Lingkungan – Prosedur Audit – Pengauditan Sistem Manajemen Lingkungan (SNI 19-14011-1997)
5.Pedoman Audit untuk Lingkungan – Kriteria Kualifikasi untuk Auditor Lingkungan (SNI 19-14012-1997)

Semua organisasi dari beragam jenis kegiatan, beragam ukuran, berbeda lokasi, pada prinsipnya dapat menerapkan standar ISO 14000, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Beberapa pihak organisasi perlu dan berkepentingan untuk menunjukkan kepada pihak lain (mitra usaha, konsumen, masyarakat, investor, dll bahwa kegiatan pengelolaan lingkungan organisasi yang bersangkutan. mengikuti standar yang diakui secara internasional, seperti ISO 14000. Faktor pendorong utama dalam penerapan standar ISO 14000 di seluruh dunia adalah semakin meningkatnya kepedulian berbagai pihak terhadap pentingnya upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Di satu sisi, pihak organisasi yang bersangkutan dapat secara proaktif menerapkan standar ISO 14000 untuk meningkatkan citra organisasi dan meningkatkan daya saingnya, sementara di sisi lain banyak organisasi lain merasa perlu menerapkan standar ISO 14000 untuk mengantisipasi permintaan konsumen dan mitra usaha.

Penerapan standar ISO 14000

Penerapan standar ISO 14000 sangat penting dan sangat berpotensi. Berikut ini adalah pentingnya penerapan standar ISO:

1) Meningkatkan citra organisasi
2) Meningkatkan kinerja lingkungan organisasi
3) Meningkatkan penaatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan       pengelolaan lingkungan
4) Mengurangi resiko usaha
5) Meningkatkan efisiensi kegiatan
6) Meningkatkan daya saing
7) Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak berkepentingan

8) Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act).

Berdasarkan diskusi dengan berbagai pihak berkepentingan di Indonesia, Kementrian Lingkungan Hidup menyadari potensi penerapan standar ISO 14000 bagi peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan hidup Indonesia serta peningkatan peran serta dunia usaha untuk secara pro-aktif mengelola lingkungan. Oleh karena itu, Kementrian Lingkungan Hidup mendorong dan memfasilitasi penerapan standar ISO 14000 di Indonesia. Berbagai seminar, lokakarya, pelatihan tentang ISO 14000 telah dilaksanakan sejak tahun 1995, yang dimaksudkan menjadi motor penggerak penerapan standar ISO 14000 di Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan populasi para praktisi dalam bidang tersebut serta dengan pendekatan pemberdayaan pihak swasta yang kompeten, maka Kementrian Lingkungan Hidup mengharapkan agar peran motor penggerak penerapan standar ISO 14000 tersebut dilanjutkan oleh pihak swasta.Hal ini konsisten dengan latar belakang pengembangan standar ISO 14000 yang dimotori oleh dunia usaha dan didukung oleh para praktisi berpengalaman.

Terkait dengan komitmen memfasilitasi penerapan standar ISO 14000 tersebut, Kementrian Lingkungan Hidup pada saat ini mempunyai unit kerja Asisten Deputi Urusan Standarisasi dan Teknologi.Fokus perhatian yang diberikan adalah efektifitas penerapan Sistem Manajemen Lingkungan, baik yang dengan sertifikasi ISO 14001 maupun yang tidak.

Sejak ditetapkannya ISO 14000 menjadi standar internasional dan diadopsi menjadi SNI 19-14001-1997 sampai saat ini tercatat lebih dari 248 (dua ratus empat puluh delapan) sertifikat ISO 14001 untuk berbagai unit organisasi perusahaan di Indonesia yang dengan sukarela menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001.Kecenderungan peningkatan penerapan Standar ISO 14001 dapat menjadi salah satu indikator peningkatan kesadaran industri terhadap pengelolaan lingkungan. Faktor pendorong yang lain adalah antisipasi industri terhadap potensi adanya persyaratan dagang dan industri yang diwajibkan oleh “buyer” untuk menerapkan ISO 14001. Selain kedua hal di atas, penerapan ISO 14001 juga di pacu oleh adanya program internal dari beberapa “holding company” untuk menerapkan ISO 14001 pada anak perusahaannya.

Kelembagaan dalam Penerapan ISO 14000 di Indonesia

            Lembaga-lembaga penenrapan ISO 14000 di Indonesia sangatlah banyak dan berkompeten.Berikut ini adalah lembaga-lembaga yang terkait dalam penerapan IS0 14000 di Indonesia.

  1. Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang merupakan anggota ISO yang mewakili Indonesia dalam siding pleno ISO. Semua masukan terhadap standar ISO sebelum disahkan menjadi standar internasional harus disampaikan melalui BSN. BSN memiliki hak suara untuk memberikan persetujuan dan penolakan terhadap isi dan standar.
  2. Intansi Teknis, adalah instansipemerintah yang bertugas untuk membahas substarsi teknis suatu standar sebelum disahkan menjadi standar internasional. Instansi ini dibentuk untuk membantu BSN dalam merumuskan dan memberikan masukan terhadap draft standar. Untuk ISO seri 14000 yang berperan sebagai instansi teknis adalah Kementrian Lingkungan Hidup.
  3. Komite Akreditasi Nasional (KAN) betugas memberikan akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi. KAN berkedudukan di BSN dengan anggota dari beberapa sektor.
  4. Lembaga Sertifikasi adalah Lembaga Independen yang bertugas memberikan sertifikat ISO 14000. Aturan main lembaga ini juga disahkan oleh BSN, sertifikasi perlu mendapat akreditasi dari KAN dan harus mengikuti aturan main KAN.
  5. Lembaga Pelatihan adalah lembaga yang memberikan pelatihan bidang ISO 14000. Lembaga pelatihan ini perlu mengikuti standar pelatihan ynag disahkan oleh BSN.
  6. Lembaga Sertifikasi Personal adalah lembaga yang memberikan sertifikasi kepada personal yang melakukan audit sebagai auditor system managemen lingkungan. Untuk menentukan kelayakan sertifikasi ynag dikeluarkan maka lembaga ini perlu disertifikasi. Aturan main Lembaga Sertifikasi Personal ini juga disahkan oleh BSN dan dalam operasinya selalu diawasi oleh BSN melalui KAN.

Cara Mendapatkan Sertifikat ISO

Mungkin bingung, darimana harus memulai proses mendapatkan sertifikat ISO 14000 tentang system manajemen lingkungan. Dalam kenyataanya,  mendapatkan ISO 14000 tidaklah sulit, apalagi bila anda menggunakan jasa konsultan ISO. Berikut ini kami ringkas 18 langkah mudah untuk mendapatkan sertifikat ISO 14000:

  1. Top Manajemen harus memutuskan untuk menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000.
  2. Top Manajemen harus menyiapkan sumber daya yang mumpuni untuk menerapkan keputusan di atas. Persiapan tersebut berupa:
  3. Kebutuhan sumber daya manusia seperti Management Representative atauKordinator ISO dan Tim ISO untuk menyiapkan, menerapkan, memelihara dan mengembangkan sistem manajemen mutudi perusahaan.
  4. Kebutuhan Waktu. Setidaknya lakukan pertemuan Tim ISO 2 jam perhari atau bisa digabung menjadi sehari dalam seminggu untuk 3 bulan pertama penerapan guna memastikan semua persyaratan ISO dipenuhi.
  5. Kebutuhan Biaya untuk konsultan ISOdan Sertifikasi ISO 14000
  6.  Bentuklah tim yang minimal terdiri dari dua orang dari setiap divisi (dari tingkatan atas atau kepala  dan bawah atau staf  kemudian tunjuklah salah seorang dari kepala tersebut sebagai Management Representative atau Kordinator ISO. Penunjukkan Management Representative memang dipersyaratkan oleh standar ISO 14000. Untuk kelancaran penerapan ISO, pastikan Management Representative adalah karyawan yang paling mengerti proses bisnis perusahaan dan disegani oleh semua pihak.
  7. Buatlah rencana training. Training pengenalan ISO 14000 untuk semua karyawan. Training sistem dokumentasi ISO 14000 untuk tim ISO dan training audit internal untuk tim ISO. Hubungi Multiple Training & Consulting (Konsultan ISOyang handal) untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
  8. Bandingkan sistem yang sudah berjalan di perusahaan anda dengan standar Sistem Manajemen Lingkungan ISO14000. Analisis apa saja persyaratan ISO yang belum anda terapkan.
  9. Rumuskan Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu (target pekerjaan) setiap divisi yang ada di perusahaan anda. Buatlah target yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Time Target)
  10. Rumuskan 6 prosedur wajibyang dipersyaratkan ISO 14000 yaitu prosedur pengendalian dokumen, prosedur pengendalian rekaman mutu, prosedur pengendalian produk tidak sesuai, prosedur tindakan perbaikan, prosedur tindakan pencegahan, dan prosedur audit internal
  11. Rumuskan prosedur kerja untuk setiap divisi. Bagi proses atau kegiatan yang harus dikontrol maka sebaiknya dibuatkan prosedur. Contoh prosedur kerja: Prosedur Penerimaan Karyawan, Prosedur Perencanaan Produksi, Prosedur Penyimpanan Barang, Prosedur Pelaksanaan Survey Kepuasan Pelanggan, dsb.
  12. Untuk proses-proses yang dianggap rumit dan membutuhkan penjelasan detail, maka buatlah Instruksi Kerja (bila perlu disertai gambar ilustrasi).
  13. Lengkapi prosedur kerja dan instruksi kerja tersebut dengan form isian. Form isian merupakan bukti bahwa prosedur tersebut dijalankan. Contoh form antara lain form serah terima barang, form evaluasi karyawan, form purchase request, form purchase order, dll.
  14. Buatlah pedoman mutu yang berisi panduan penerapan ISO di perusahaan anda
  15. Terapkan sistem manajemen mutu yang anda kembangkan setidaknya 3 bulan untuk memastikan semua prosedur yang telah ditetapkan, dimengerti dan dijalankan sepenuhnya oleh semua karyawan.
  16. Laksanakan training audit internal untuk tim ISO
  17. Jalankan audit internal pertama yang dilakukan oleh auditor internal yang telah mengikuti training. Auditor internal akan mengaudit seluruh divisi di perusahaan anda dan memeriksa kesesuaian dan ketidaksesuaian perusahaan anda dengan standar ISO atau prosedur dan kebijakan yang ditetapkan.
  18. Hubungi badan sertifikasi untuk mengajukan audit sertifikasi. Setidaknya anda harus menghubungi badan sertifikasi 1 bulan sebelum tanggal audit yang anda inginkan.
  19. Laksanakan rapat tinjauan manajemen yang dipimpin langsung oleh Top Manajemen untuk memastikan semua persyaratan ISO telah diimplementasikan.
  20. Badan Sertifikasi akan mengaudit anda dalam 2 stage; (1) Initial Audit dan (2) Main Audit. Pastikan Tim ISO anda telah siap.
  21. Selamat! Kini, sertifikat ISO14000 sudah di tangan anda. Jangan lupa untuk menampilkan logo sertifikasi di kartu nama, kop surat, kemasan luar produk untuk meningkatkan brand imageanda di mata pelanggan

Sertifikat ISO 14000 dikeluarkan oleh lembaga yang disebut badan sertifikasi.Badan sertifikasi yang eksis di Indonesiacukup banyak. Sebut saja diantaranya Sucofindo, SGS, BVQI, Lloyd, DQS, MSA,  dll. Terdapat dua syarat untuk mendapatkan sertifikat ISO yaitu telah menerapkan system manajemen manajemen lingkungan sekurang-kurangnya tiga bulan, dan telah lulus audit.
Setelah organisasi anda menerapkan ISO 14000 sekurang-kurangnya 3 bulan, anda boleh mengajukan diri untuk diaudit ke badan sertifikasi yang dipilih. Badan sertifikasi akan meminta anda untuk mengirimkan sertifikat ISO seperti  pedoman lingkungan, kebijakan lingkungan, sasaran lingkungan, 6 prosedur wajib, prosedur kerja departemen/bagian. Anda juga diminta untuk mengirimkan bukti pelaksanaan internal audit dan rapat tinjauan manajemen.

Lamanya waktu audit ditentukan oleh ruang lingkup dan bidang pekerjaan anda. Biasanya, audit dilakukan dalam 2 stage; stage 1 untuk memeriksa pemenuhan persyaratan dokumentasi, stage 2 untuk memeriksa pemenuhan persyaratan implementasi.Organisasi anda dinyatakan lulus jika tidak ada temuan yang bersifat majour (fatal). Temuan yang bersifat majour terjadi karena adanya sistem yang tidak berjalan sama sekali atau ada persyaratan ISO 14000 yang tidak diterapkan tanpa alasan. Temuan lain disebut minor dan observasi. Temuan minor terjadi bila organisasi anda hanya tidak konsisten dalam menjalankan sistem atau hanya sebagian persyaratan yang diterapkan dari yang seharusnya.Adapun temuan observasi hanya bersifat saran-saran perbaikan.Temuan minor dan observasi tidak menyebabkan kegagalan melainkan hanya perlu perbaikan-perbaikan.Anda diwajibkan untuk melakukan perbaikan terhadap temuan-temuan yang disampaikan terlebih dahulu sebelum proses pencetakan sertifikat. Setiap badan sertifikasi memiliki lama waktu pencetakan sertifikat yang berbeda-beda mengingat ada beberapa badan sertifikasi yang menginduk ke luar negeri.Pengalaman kami, waktunya berkisar antara 2 minggu sampai 1 bulan.

Sertifikat ISO 14000 berlaku untuk 3 tahun. Setelah 3 tahun, anda akan diaudit re-sertifikasi. Dalam masa 3 tahun, anda akan diaudit dalam periode tertentu (6 bulan sekali atau setahun sekali) yang disebut dengan surveilance audit
Biaya sertifikasi ISO 9001 berbeda-beda tergantung bidang pekerjaan dan besar organisasi anda. Setiap badan sertifikasi memiliki standar harga yang berbeda-beda. Namun yang jelas, ada 2 komponen biaya yang harus anda bayar yaitu biaya audit sertifikasi yang dikeluarkan diawal dan biaya audit surveillance.

Catatan:

– Badan Sertifikasi akan mengeluarkan sertifikat bila perusahaan anda dinilai tidak melakukan kesalahan fatal (majour finding) yang biasanya diakibatkan adanya salah satu klausul yang tidak diterapkan

– Setelah audit sertifikasi, Badan Sertifikasi akan melakukan surveillance audit yang dilakukan secara rutin enam bulan atau setahun sekali.

Sumber Refrensi: http://amazonfile.blogspot.com/2013/04/sejarah-iso-14000.html

Studi Kasus yang Menjelaskan Perundang-undangan

  • Perundang-undang beserta studi kasus

Aspek Hukum Perlindungan kawasan industri di Semarang dari Pencemaran Limbah Pengelolaan lingkungan adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (pasal 1 angka 2 UUPLH). Secara umum Pengelolaan secara terpadu menghendaki adanya keberlanjutan (sustainability) dalam pemanfaatan. Sebagai kawasan yang dimanfaatkan untuk berbagai sektor pembangunan, wilayah ini memiliki kompleksitas isu, permasalahan, peluang dan tantangan.
Pencegahan pencemaran dari kawasan industri diatur dlm UU, seperti terlihat dalam Pasal 20 UUPLH disebutkan:

  1. Tanpa suatu keputusan izin, setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup.
  2. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia.
  3. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri.
  4. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri.
  5. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan.

Peran Pemda juga penting bertanggungjawab dalam mengatur kawasan industri.
Dalam Pasal 22 UUPLH disebutkan:

  1. Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.
  2. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan.
  3. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah, Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan.

Di Indonesia Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) diatur dalam PP No 27 tahun 1999. AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup. AMDAL sangat diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatanyang dinilai berpotensi berdampak negatif terhadap lingkungan. AMDAL sebagai salah satu instrumen proses penegakkan hukum administrasi lingkungan belum terlaksana sebagaimana mestinya. Padahal pada instrumen ini dilekatkan suatu misi mengenai kebijakan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Dalam hal perizinan juga mengatur tentang pengelolaan limbah sebagaimana tercantum dalam pasal 16-17:

Pasal 16

  1. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan.
  2. Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain.
  3. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Sanksi Administrasi

Dalam UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, salah satu instrumen hukum yang berperan bila kita bicara tentang penegakkan hukum lingkungan adalah hukum administrasi. Instrumen hukum administratif berbeda dengan instrumen lainnya, oleh karena penyelesaiannya adalah di luar lembaga peradilan. Dengan demikian, efektivitasnya sangat tinggi dalam pencegahan perusakan lingkungan. Sanksi administratif tercantum dalam pasal 25.
Berdasarkan ketentuan diatas pelanggar dapat diperingati agar berbuat sesuai izin dan apabila tidak, akan dikenakan sanksi yang paling keras pencabutan izin usaha perusahaan pengalengan ikan yang terbukti membuang limbah ke pesisir Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. Selain itu pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya (lihat pasal 27 ayat 1,2,3 UUPLH). Upaya adminisrtatif adalah upaya tercepat karena tidak memerlukan proses peradilan. Dalam kasus pengerusakan lingkungan upaya ini terasa lebih relevan mengingat pencemaran lingkungan hidup memerlukan upaya yang cepat agar kerugian yang ditimbulkan tidak terus bertambah.

Sanksi Perdata

Ketentuan hukum penyelesaian perdata pada sengketa lingkungan dalam UUPLH terdapat dalam pasal 30-39. Pada pasal Pasal 34 ayat (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup, mewajibkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Pada ayat (2) Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu, hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. Selanjutnya pasal 34 tidak menetapkan lebih lanjut mengenai tata cara menggugat ganti kerugian. Pengaturan mengenai tanggunggugat dan ganti rugi masih berlaku pasal 1365 BW.

Tuntutan supaya suatu ketentuan larangan berdasarkan unang-undang atau suatu syarat dalam iizin dipenuhi, hanya dapat diajukan oleh seorang yang bersangkutan atau terancam suatu kepentingan yang dilindungi oleh ketentuan berdasarkan undang-undang atau ketentuan perizinan. Mengenai siapa yang berhak melakukan gugatan. Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup seperti LSM berhak untuk melakukan gugatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 37 UUPLH:

Sanksi Pidana

Dalam pemberian sanksi pidana UUPLH 1997 menetapkan sanksi maksimum, hal terebut tercantum dalam Pasal 41:
Barang siapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Dalam penerapan instrumen hukum pidana pada dasarnya bersifat sebagai upaya terakhir (ultimum remidium), namun dalam penegakkan hukum lingkungan tidak selamanya bersifat (ultimum remidium) karena tingkat kerusakan lingkungan di Indonesia sudah pada tingkat memprihatinkan.
Untuk adanya perbuatan pidana di bidang Lingkungan Hidup, menurut pasal 41 sampai Pasal 47 UUPLH ditentukan agar memenuhi syarat-syarat :

  1. adanya perbuatan yang memasukkan mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam Lingkungan Hidup atau perbuatan yang menimulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/ atau hayati Lingkungan Hidup
  2. adanya penurunan kemampuan lingkungan sampai tingkat tertentu dalam menunjang pembangunan berkelanjutan atau Lingkungan Hidup kurang/ tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya
  3. adanya unsur kesalahan dari perilaku baik karena kesengaajaan atau kelalaian;
  4. adanya hubungan sebab akibat antara kesalahan pelaku dengan penurunan kualitas Lingkungan Hidup sampai pada tingkat kurang / tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya;
  5. kesalahan pelaku bersangkutan dimaksudkan sebagai tidak pidana
    Dalam kasus Pencemaran di kawasan industri, pencemaran dilakukan bukan oleh individu saja tetapi oleh beberapa orang atau perusahaan, mengenai pencemaran yang dilakukan secara kolektif merujuk pada Pasal 46 UUPLH, selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini, terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib sesuai pasal 47 UUPLH

Sumber:

http://carapedia.com/pengertian_definisi_lingkungan_hidup_menurut_para_ahli_info951.html

http://www.env.go.jp/earth/coop/oemjc/ind/e/indonee1.pdf

https://setiawanrico.wordpress.com/2014/10/05/contoh-kasus-amdal-kawasan-lingkungan-industri-kecil-di-semarang-kompas-2-agustus-2002/

http://hasputra.blogspot.com/2015/03/definisi-studi-kasus-dan-perundang.html

Studi Kasus Permasalahan Lingkungan dan Solusi

Studi Kasus Pencemaran Air Sungai di Bandung

Sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan dan kehidupan manusia.Salah satu fungsi sungai yang utama saat ini asalah fungsinya sebagai sumber air untuk pengairan lahan pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk kegiatan sector perindustrian.Kelestarian fungsi lingkungan sungai dapat terancam oleh penurunan kualitas airnya. Gejala penurunan kualitas air sungai sekarang ini telah diamati secara mudah terutama gejala pencemaran yang terindera seperti : kebusukan air, kehitaman air, kekeruhan, warna air yang non alami, bau dan efek iritasinya pada kulit manusia dan hewan.

Pencemaran air sungai perlu dikendalikan seiring dengan pelaksanaan pembangunan agar fungsi sungai dapat dilestarikan untuk tetap mampu memenuhi hajat hidup orang banyak dan mendukung pembangunan secara berkelanjutan. Upaya-upaya yang dapat ditempuh dalam mengendalikan pencemaran air di wilayah Bandung adalah dengan melakukan :

  1. Pemantauan industri (pemantauan–pembinaan industri dan pengambilan sampel limbah cair).
  2. Pemantauan sungai (pengambilan sampel sungai dan kajian data analisis laboratorium).

Pencemaran air sungai disebabkan oleh banyaknya air limbah yang masuk kedalam sungai yang berasal dari berbagai sumber pencemaran yaitu dari limbah industri, domestik, rumah sakit, peternakan, pertanian dan sebagainya.Dalam rangka pengendalian pencemaran air sungai, diperlukan Pemantauan dan Evaluasi kualitas air sungai lintas di Jawa Barat. Dengan pencemaran air akan merusak ekosistem sungai. Kebanyakan pencemaran dari pembuangan Industri yang membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan.Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

Masyarakat di perkotaan harus memiliki kesadaran membuat sumur resapan sekaligus penampung air hujan. Dengan meresapnya air hujan ke tanah, akan menambah cadangan air tanah sebagai sumber air bersih. Hal ini akan dapat mengatasi sebagian masalah kekurangan air di musim kemarau serta mencegah banjir di saat musim hujan.

ALIRAN SUNGAI CITARUM, BANDUNG.

Gambar di atas merupakan pencemaran air sungai citarum yang disebabkan oleh limbah rumah tangga dan membuat sungai menjadi dangkal.

Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya. Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan).Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang.Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.

ALIRAN SUNGAI CIPARUNGPUNG, BANDUNG.

Gambar di atas menunjukan bahwa sungai di Bandung sudah tercemar oleh sampah dan limbah industri. Sungai ciparungpung merupakan sungai yang sering digunakan untuk sabagai cadangan air bersih di bandung.

Sungai cikapundung merupakan salah satu sungai yang cukup terkenal di kota bandung. sungai ini melintasi bandung dari arah utara menuju ke arah selatan sejak dataran tinggi bandung ada. selama itu pula cikapundung telah menyaksikan bagaimana perlahan2 peradaban di kota bandung muncul. seringkali, sungai cikapundung pun jadi korban akan maju peradaban manusia di dataran tinggi bandung.

Gambar di atas memperlihatkan bagaimana gedung2 pencakar langit mulai menghiasi langit biru kota bandung. dari titik ini juga terlihat jelas penduduk utara bandung sudah tidak memperhatikan keadaan sungai cikapundung yang semakin lama, semakin rusak saja diterjang gaya hidup manusia bandung yang tidak bertanggung jawab. Begitulah nasib saksi bisu dari munculnya peradaban di dataran tinggi bandung. kadang menyakitkan, dan tak jarang menyedihkan melihat bandung yang telah berubah banyak.

  • Solusi untuk mengatasi ini:

Dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse). Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi “masyarakat kimia”, yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya.Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar.

Cara alternative :

  • Jangan membuang sampah di sungai baik sampah organik dan nonorgani.
  • Jangan membangun bangunan di sekitar sungai karena itu bisa mempersempit aliran sungai.
  • Perlunya kesadaran masyarakat bandung untuk mengelola sungai, seperti mengadakan kerja bakti untuk membersihkan aliran sungai.
  • Membuat program PRO KASIH (program kali bersih)
  • Membuat aturan atau regulasi untuk bagi yang mencemarkan sungai baik

individu atau para industry.

http://putriandini441.blogspot.com/2014/11/contoh-studi-kasus-pencemaran-air.html

Pengertian Lingkungan Menurut Berbagai Sumber

DEFINISI LINGKUNGAN MENURUT BERBAGAI SUMBER

-PROF. DR. ST. MUNADJAT DANUSAPUTRO, SH

Lingkungan hidup sebagai semua benda dan kondisi, termasuk di dalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang tempat manusia berada dan mempengaruhi hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya.

-PROF DR. IR. OTTO SOEMARWOTO

Lingkungan hidup adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati  yang mempengaruhi kehidupan kita

-JONNY PURBA

Lingkungan hidup adalah wilayah yang merupakan tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nila.

-SRI HAYATI

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan mahluk hidup. termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya

-S.J MCNAUGHTON & LARRY L. WOLF

Lingkungan hidup adalah semua faktor ekstrenal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengarui kehidupan, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi organisme

-MICHAEL ALLABY

Lingkungan hidup diartikan sebagai: the physical, chemical and biotic condition surrounding and organism

Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subjek manusia yang terkait dengan aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan : tanah, udara, air, sumber daya alam, flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikan sekumpulan aktifitas merencanakan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.

Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yang dihadapi oleh seorang manager. Perbedaan dan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap konsep dan teknik serta keputusan yang akan diambil.  Ada dua macam faktor lingkungan, yaitu :

Faktor Lingkungan Internal yaitu lingkungan yang ada didalam usahanya saja.

Faktor Lingkungan Eksternal yaitu unsur-unsur yang berada diluar organisasi, dimana unsure-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manager, disamping itu juga akan mempengaruhi manager didalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan ekonomi, paraturan pemerintah, perilaku konsumen, perkembangan teknologi, politik dan lainnya. Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu :

Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan manajemen yang terdiri atas penyedia, langganan, para pesaing, lembaga perbankan dan lainnya.

Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung, seperti kondisi perekonomian, perubahan teknologi, politik, sosial dan lain sebagainya.

sumber :       http://syarifhidayat21.blogspot.com/2010/11/evolusi-teori-manajemen.html
https://yuharariskiyah.wordpress.com/2013/11/28/definisi-lingkungan-menurut-para-ahli/

 

Tugas 4 Softskill Bab III Proposal Penelitian

TUGAS 4

BAB 3 PROPOSAL PENELITIAN

 

3.1       Data dan Sampel

   Analisis persediaan bahan baku digunakan untuk mengetahui bahan baku langsung dan bahan baku tidak langsung, serta bagaimana cara pemesanan bahan baku langsung. Berikut merupakan analisis dari persediaan bahan baku jasa pencucian motor.

Bahan baku langsung merupakan bahan baku yang digunakan dalam proses pencucian motor tersebut. Bahan baku langsung dalam proses pencucian motor yaitu sabun yang digunakan untuk mencuci motor. Bahan baku tidak langsung merupakan bahan yang digunakan sebagai tambahan untuk mendukung proses pengerjaan pada saat menggunakan bahan baku langsung, bahan baku tidak langsung yang digunakan adalah pemoles ban agar ban tersebut dapat terlihat megkilap agar dapat ebih terlihat menarik.

 

3.2       Analisis Personalia

            Analisis personalia menjelaskan mengenai identitas dari CV. RUM serta untuk menganalisis target penjualan dari perusahaan tersebut. Berikut ini adalah analisis personalia dari CV. RUM.

Setiap perusahaan pasti memiliki tenaga kerja, dimana tenaga kerja terbagi dua macam yaitu tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi atau proses pembuatan produk seperti halnya adalah operator, atau pegawai. Tenaga kerja tidak langsung merupakan tenaga kerja yang tidak terjun secara langsung ke lapangan seperti halnya pemilik yang hanya mengatur dari belakang saja, tidak terjun langsung ke lapangan.

CV. RUM memiliki 4 orang pegawi atau dapat dikatakan sebagai tenaga kerja langsung. Tenaga kerja tidak langsung adalah seorang pemilik perusahaan tersebut yang hanya bertugas mengkontrol kegiatan dari pegawainya.

3.3       Profil Perusahaan

CV. RUM merupakan perusahaan kecil atau dapat dikatakan usaha kecil menengah yang bergerak dalam bidang jasa steam motor. Lokasi dari usaha tersebut atau CV. RUM cukup strategi, yaitu berlokasikan dipinggir jalan utama kali baru barat, selain itu lokasi cuci steam tersebut berada di depan pasar tradisional sehingga konsumen dapat mencuci motornya ketika berbelanja kepasar, lokasi tersebut mempengaruhui minat konsumen sehingga CV. RUM ramai dikunjungi oleh para konsumen. Usaha cuci steam motor ini buka dari pukul 09:00 – 22:00 malam. Biaya yang dikeluarkan untuk jasa pencucian satu motornya yaitu sebesar Rp 12.000.

 

3.4       Flowchart Pengumpulan Data

            Metode pengumpulan data pada laporan hasil wawancara ini digambarkan dengan menggunakan flowchart. Berikut ini adalah urutan kegiatan yang dilakukan dalam pengumpulan data dengan flowchart beserta penjelasannya.

Gambar 3.1 Flowchart Pengumpulan Data

 

3.5       Penjelasan Flowchart Pengumpulan Data

            Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis usaha yang akan dibahas, yaitu usaha cuci steam, setalah jenis usaha ditentukan selanjutnya adalah menentukan waktu kunjungan dan wawancara. Tahap selanjutnya adalah menyiapkan pertanyaan dan alat bantu yang akan digunakan dalam wawancara seperti alat tulis, lembar pertanyaan, lembar catatan, dan handphone. Wawancara dan pengumpulan data akan dimulai ketika semua pertanyaan dan alat bantu sudah tersedia dan siap untuk digunakan. Kunjungan dan wawancara dilakukan sampai semua pertanyaan yang disiapkan telah disampaikan dalam wawancara tersebut. Wawancara yang dilakukan oleh penyusun terbagi menjadi dua kali pertemuan, sebab pada pertemuan yang pertama belum semua pertanyaan selesai disampaikan dan belum terjawab secara lengkap. Kunjungan dan wawancara juga bermaksud untuk memperoleh data berupa gambar, video, dan data jumlah pencucian motor steam pada periode September 2013 hingga Agustus 2014. Kunjungan dan wawancara tersebut akan selesai dilakukan jika semua data sudah diperoleh dengan cukup. Hasil dari kunjungan dan wawancara yang dilakukan akan disajikan dalam bentuk laporan hasil wawancara.

3.6       Peralatan yang Digunakan

Terdapat beberapa peralatan yang digunakan pada saat wawancara. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai peralatan yang digunakan dalam melakukan wawancara usaha cuci steam.

  1. Alat tulis, digunakan untuk mencatat hasil dari proses wawancara yang dilakukan.
  2. Lembar pertanyaan, digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk menyampaikan pertanyaan dalam wawancara.
  3. Lembar catatan, digunakan untuk mencatat hal-hal inti yang diperoleh saat wawancara.
  4. Handphone digunakan untuk merekam proses wawancara, mengambil gambar, dan merekam proses pencucian motor dalam bentuk video.

Identifikasi dan Uraian Sampel dan Teknik Sampling

Melanjutkan hasil dari sebelumnya mengenai untuk mengetahui tingkat produktifitas antara cashier 1 dan cashier 2. Berikut ini merupakan tabel rangkuman hasil dari pengamatan yang dilakukan. Perhitungan produktif dan non produktif diambil dari pengamatan terhadap cashier 1 dan cashier 2. Perhitungan produktif dan non produktif bertujuan untuk mengetahui cashier 1 dan cashier 2 lebih banyak bekerja atau menganggur.

  1. Total Perhitungan Produktif dan Non Produktif untuk Cashier 1

Hasil data pengamatan yang diambil kemudian diolah. Data tersebut ditentukan nilai produktif dan non produktifnya setiap cashier. Perhitungan berikut ini adalah pengolahan pada cashier 1.

Tabel 4.1 Perhitungan Produktif dan Non Produktif Cashier 1

Kegiatan Frekuensi teramati pada observasi ke- Jumlah
1 2 3 4 5 6
Produktif 28 31 32 37 37 40 205
Non Produktif 12 9 8 3 3 0 35
Jumlah 40 40 40 40 40 40 240
% Non Produktif (P) 0,3 0,225 0,2 0,075 0,075 0 0,1458

 

  1. Total Perhitungan Produktif dan Non Produktif untuk Cashier 2

Langkah-langkah pengolahan data pada cashier 1 kemudian dilanjutkan terhadap cashier 2. Berikut ini adalah langkah yang dilakukan untuk menentukan nilai produktif dan non produktif pada cashier 2.

Tabel 4.2 Perhitungan Produktif dan Non Produktif Cashier 2

Kegiatan Frekuensi teramati pada observasi ke- Jumlah
1 2 3 4 5 6
Produktif 20 27 33 34 37 36 187
Non Produktif 20 13 7 6 3 4 53
Jumlah 40 40 40 40 40 40 240
% Non Produktif 0,5 0,325 0,175 0,15 0,075 0,1 0,2208

 

Kesimpulan dari tabel diatas dapat diketahui bagaimana tingkat dari produktifitas cashier 1 dan cashier 2 dalam bekerja dengan kriteria bergender sama, shift kerja yang sama, siklus kerja yang sama, dan jenis pekerjaan yang sama pula. Hasilnya adalah cashier 1 lebih produktif ketimbang kinerja dari cashier 2, hal tersebut dapat dilihat dari % non produktif operator 2 lebih besar yaitu 0,2208 sdangkan untuk operator yang 1 tingkat %non produktifnya sebesar 0,1458. Hasil tersebut menyatakan cashier 1 lebih produktif dari pada kinerja dari cashier 2 yang lebih besar tingkat idle atau menganggur.

PENDAHULUAN BAB 1

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1     Latar Belakang

Manusia dalam kehiudpan sehari-hari tidak bisa terpisahkan dari banyaknya aktivitas pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan dalam kesehariannya tidak dapat terpisahkan dari siklus kerja, siklus kerja yang tidak baik seperti waktu menganggur yang cukup lama tentunya sangat berpengaruh terhadap produktivitas dari suatu perkerjaan yang dilakukannya itu terjadi dikarenakan siklus waktu kerjanya yang tidak jelas. Produktifitas pekerja dapat diukur dari seberapa banyaknya operator tersebut bekerja dalam suatu pekerjaannya apakah pekerja tersebut lebih banyak menganggurnya atau bekerjanya.

Permasalahan mengenai produktifitas dari operator dapat diketahui dengan menggunakan metode work sampling. Work sampling merupakan suatu metode atau cara pengamatan yang dilakukan secara langsung untuk mengamati seberapa produktif pemanfaatan mesin bekerja dan seberapa produktif operator ketika sedang bekerja. Metode work sampling ini dianggap tepat untuk menangani produktifitas pekerja yang kurang baik.

Penerapan metode work sampling dapat dilihat dan diaplikasikan ke dalam sebuah pengamatan yang dilakukan terhadap pekerjaan atau kegiatan dari cashier . Alasan pemilihan tempat cashier dikarenakan sistem kerjanya memiliki siklus kerja yang tidak jelas dan memiliki kecenderungan bekerja secara berulang-ulang untuk melayani konsumen. Harapan yang ingin dicapai dari penggunaan metode work sampling adalah supaya pekerja dapat bekerja dengan produktifitas yang baik dan mengurangi dari tingkat non produktifnya atau waktu mengaggurnya dapat dikendalikan.

 

1.2     Perumusan Masalah

Proses pengamatan yang dilakukan tidak terlepas dari munculnya masalah-masalah yang dihadapi. Perumusan masalah yang di hadapi dalam proses pengamatan terhadap produktifitas dari siklus waktu kerja cashier adalah bagaimana menentukan produktifitas dan non produktifitas dari kedua cashier tersebut serta mengetahui bagaimana siklus waktu kerja dari kedua operator cashier .

 

1.3     Pembatasan Masalah

Penulisan laporan akhir ini, diberikan beberapa pembatasan masalah sesuai dengan modul praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan. Berikut adalah pembatasan masalah yang terdapat pada modul work sampling sebagai berikut:

  1. Proses pengamatan dilakukan hanya pada sebuah lokasi perbelanjaan yang terletak di Jakarta Timur.
  2. Pengambilan data dilakukan sebanyak 40 data pengamatan.
  3. Operator yang diamati hanya yang bekerja sebagai
  4. Pengamatan terhadap operator dilakukan hanya terhadap dua orang operator cashier yang berjenis kelamin sama yaitu wanita.
  5. Pengambilan data dilakukan hanya pada waktu kerja operator shift 2 yaitu di mulai dari sore hari (15.00) sampai malam hari (20.00).
  6. Metode penyesuaian yang digunakan adalah hanya metode shumard dan metode Westinghouse
  7. Tingkat kepercayaan dan ketelitian yang dipakai adalah 99% untuk tingkat kepercayaan dan 5% untuk tingkat ketelitian

 

1.4     Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan merupakan bagian yang disusun dengan maksud memperjelas mengapa perlu dilakukan sebuah pengamatan dan untuk apa pengamatan dilakukan. Berdasarkan perumusan masalah yang telah dibuat, maka dapat diuraikan suatu tujuan yang digunakan untuk mencari solusi dari masalah tersebut diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengetahui persentase produktif dan non produktif dari dua operator yang bekerja sebagai cashier.
  2. Mengetahui nilai Kecukupan data dari pengamatan yang dilakukan terhadap dua orang operator pada cashier.
  3. Mengetahui nilai uji keseragaman data dari hasil pengamatan dua orang operator pada cashier.
  4. Mengetahui waktu baku dari kedua operator yang bekerja pada cashier.
  5. Mengetahui tingkat ketelitian data dari dua operator yang bekerja pada cashier.

 

1.5     Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan susunan atau tata cara penulisan dalam membuat laporan akhir. Tujuan dari sistematika penulisan ini agar laporan akhir tersususun secara teratur dan menjadi rapi sesuai dengan tata cara yang ada. Sistematika penulisan ini berisikan antara lain:

BAB I       PENDAHULUAN

Bab I ini berisikan awal dari penulisan laporan akhir. Pendahuluan ini berisikan latar belakang yang menjelaskan hal yang melatar belakangi dibuatnya laporan ini, perumusan masalah yang menjelaskan masalah yang harus dicari penyelesaiannya, pembatasan masalah berisikan batasan-batasan masalah supaya tidak menyimpang dari permasalahan, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan yaitu tata cara penulisan supaya baik dan benar.

BAB II       LANDASAN TEORI

Bab II ini berisikan landasan teori dari masing-masing modul. Landasan teori juga berisikan tentang studi literatur yang didapat dari beberapa sumber.

BAB III    METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data ini berisikan sebuah bagan pengumpulan data yang berupa flowchart pengumpulan data. Flowchart pengumpulan data menggambarkan tahap-tahap dalam pengambilan data. Dat tersebut kemudian dijelaskan pada setiap tahapnya pada bagian penjelasan flowchart pengumpulan data. Metode pengumpulan data juga berisikan tentang peralatan yang digunakan, data hasil pengamatan dan gambar operator dan lokasi pengamatan.

BAB IV    PEMBAHASAAN DAN ANALISIS

Pembahasan dibuat karena adanya permasalahan. Pembahasan berisikan tentang perhitungan yang dapat dihitung secara manual. Analisis pada bab ini adalah menganalisis dari hasil perhitungan yang didapat.

BAB V      PENUTUP

Penutup merupakan bagian akhir dalam sistematika penulisan, pada bagian penutup ini terbagi menjadi dua hal yaitu kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisikan tujuan dari penulisan, sedangkan saran adalah agar lebih baik untuk membuat laporan kedepannya.

 

MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini dapat dikategorikan sebagai manfaat teoritis dan manfaat praktis. Secara teoritis, penelitian bermanfaat bagi pengembangan ilmu khususnya mengetahui mengenai sampling pekerjaan, khususnya ilmu sampling pekerjaan, lebih khusus lagi terkait dengan penerapan teori-teori sampling pekerjaan terkait pelaksanaan terhadap waktu kerja dari operator. Manfaat dalam pengaplikasian terhadap pengamatan pekerjaan operator adalah:

 

  1. Mengetahui persentase produktif dan non produktif dari dua operator yang bekerja sebagai cashier.
  2. Mengetahui nilai Kecukupan data dari pengamatan yang dilakukan terhadap dua orang operator pada cashier.
  3. Mengetahui nilai uji keseragaman data dari hasil pengamatan dua orang operator pada cashier.
  4. Mengetahui waktu baku dari kedua operator yang bekerja pada cashier.

 

KERANGKA PIKIR PENELITIAN

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir.

Gambar 1.1 Flowchart Pengambilan Data

 

SUMBER:

http://fisikadansains.blogspot.com/2013/12/definisi-dari-teori-dan-kerangka_6972.html

http://www.martonomily.com/knowledge-library/hukum/hak-perseroan-dan-tanggung-jawab-masyarakat-dalam-pelaksanaan-tanggung-jaw-3